akhirnya hari itu tiba.

13 menit sesi presentasi plus 30 menit sesi pengujian. waktu yang terbilang sangat singkat untuk sebuah sidang sarjana di jurusan saya. yah, kekuatan doa.

alhamdulillah, kemarin saya dinyatakan lulus. horeee!! :-D dapat gelar sarjana teknik. tapi ya memang, senangnya tidak seheboh saat 4 tahun lalu mendapat berita “icha, kamu diterima di ITB”..

syukur alhamdulillah.. walaupun perlu beberapa revisi, tapi setidaknya saya sudah terbebas dari masalah kardus-dan-kontainer itu. :mrgreen:

terima kasih atas doa dan bantuan kalian. without u, i wouldn’t make it well.. :-)

getting older..

hmm.. :)

wanna say thanks..

to GOD (for everything I got, Alhamdulillah..),

to my Pop (for the unique gift you always give..),

to my Mom (for the sepatu-buat-sidang which makes me feel guilty. I will have my sidang soon, Mom. I will..amin..),

to my Brothie (for the pulsa-M3-Rp.50000. :mrgreen: ),

to my ‘Tante Ikeu‘ (for the little-candle-at-6-a.m which surprised me enough.. :-)   , <update : and also for the blush-on :-P > ),

to Yan (for the white rose and the tickets),

to my TI’04 <update : and also to Miki, the one who invited them and also chose the kembang-mawar-tart-cake> (for the kejutan-di-siang-bolong while I was stuck on my TA in the lab :-D ),

and of course to all of my friends, my lecturers, and also my auntie, my sists, my niece and nephews :mrgreen: for the greetings, careness and the invocation.

Di tengah rasa jenuh dan putus asa yang melanda.. alhamdulillah ada yang mengingatkan, bahwa:

Tidak ada kekuatan apapun yang menyamai kekuatan Allah

dan

Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah..

Ya Allah, mudahkanlah segala urusan hamba.. amin.

Terimakasih, Mbak Galuh.. :mrgreen:

Temukan apa arti di balik cerita
hati ini terasa berbunga-bunga
membuat seakan aku melayang terbuai asmara

adakah satu arti dibalik tatapan
tersipu malu akan sebuah senyuman
membuat suasana menjadi nyata
begitu indahnya

dia seperti apa yang selalu kunantikan, akuinginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna

tanpa buai kata tercuri hatiku
dia tunjukan dengan tulus cintanya
terasa berbeda
saat bersamanya
aku jatuh cinta

dia seperti apa yang selalu kunantikan, kuinginkan
dia oh dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
dia seperti apa yang selalu kunantikan, akuinginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna

dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa
percayakan cinta hingga dia disni
memberi cinta ku harapan

dia seperti apa yang selalu kunantikan, akuinginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
dia seperti apa yang kunantikan, akuinginkan
dia dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna

give me your love
give me your love now
so come on and love me
come on and love me

 -Maliq and The Essentials-

Belum ada 24 jam Romeo tinggal bersama keluarga saya, Romeo sudah menunjukkan kebolehannya. Yaps, dia sudah bisa mengucapkan 1 kata! “Bakekok..”, itu kata pertamanya yang dapat terdengar agak jelas. Kata-kata lainnya yang belum terdengar sempurna diantaranya adalah “Punten”, “Waaw”, dan “Gue Beo” (ataukah dia berusaha untuk bilang “Romeo”??).

 

Susah banget ngajarin dia bilang “Assalamualaikum”.. yang keluar malah suara ayam “Bek bek betook” (maklum sih, selama 2 hari-2 malam Romeo bersebelahan dengan para ayam yang sama-sama dibeli di ponorogo di bis). Apalagi kalo saya nyuruh ngomong “Icha Cantik.. Icha Cantik..”, yang ada Romeo Cuma bersuara bak manusia mengeluarkan dahak “khroeeekk”. *deep sigh*

 

Nah, saking sayangnya saya pada Romeo, sore hari saya beri dia pisang kepok. Saya bermaksud mengikat si pisang di sangkar Romeo dengan karet gelang supaya posisinya pas dan tidak berubah. Eh, belum sempat si pisang terikat sempurna, Romeo sudah merebut si karet gelang. Astaga, ROMEO MENGIRA KARET GELANG ADALAH CACING! Romeo berusaha untuk menelan karet gelang tadi, tapi gagal terus, karena menyangkut di paruhnya sendiri. Saya, mama, dan para tante yang menyaksikan pergulatan antara Romeo melawan Karet Gelang yang ingin disantapnya itu panik.

 

“Gimana kalau beneran tertelan??”

“Bisa mati dia..”

“Cepat rebut karetnya!”

“Gimana caranya??”

“Icha, ambil batang lidi!”

 

Semua panik, dan bingung bagaimana caranya melepaskan karet gelang dari paruh si Romeo?? Saya datang membawa sebatang lidi. Mama mengambilnya lantas berusaha merebut karet gelang dari paruh Romeo. Saya?? Berdoa di balik punggung mama. Adik saya memasukkan tangan kanannya ke dalam sangkar si Romeo, menahan badan Romeo agar bisa diam dan tenang.

 

“Ati-ati kena matanya..”

“Iya..”

“Ya ampun, karetnya nyangkut di lidahnya..”

“Gimana ini?”

 

Saya sudah berpikir yang macam-macam saja. Terbayang Romeo akan mati karena menelan karet gelang pahit itu yang disangkanya sebagai cacing santapan.

 

Saya berdoa. Adik saya masih memegangi badan Romeo. Tante saya memegangi leher Romeo, berharap ia membuka paruhnya. Mama standby di posisinya, bersiap kalau Romeo membuka paruhnya lidi siap menarik karet gelang sialan itu. Romeo?? Lemas tapi tetap tak membuka paruhnya. “Koeek.. koekk..”

 

Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Romeo mau juga membuka sedikit paruhnya. Karet gelangnya pun berhasil ditarik. Horeeee…

 

“Alhamdulillah..”

“Koeek.. koekk..”

“Cup cup cup, Romeo..”

 

Saya kira Romeo akan pundung dan tak mau bersuara lagi. Saya menyesal.. telah membawa masuk karet gelang ke sangkar Romeoku sayang. :cry:

 

“…”

“…”

“bakekok.. bakekok..”, ROMEOKU NGOMONG LAGI! :D

eits.. jangan mikir yg bukan-bukan! *apa cuma saya aja ya yang suka mikir yang bukan-bukan? hihi..*

dulu (waktu SD) saya pernah juga punya burung, 1 ekor burung-5000-an yang saya gak tau jenisnya apa, beli di pasar kaget yang selalu buka setiap hari minggu di depan komplek. tapi..hanya bertahan hidup selama 1 hari! :mrgreen: *malang betul nasib si burung-5000-an..*

kisah cinta saya dan hewan piaraan selanjutnya adalah saat saya melihara ikan dan kura-kura. waktu itu masih ada kolam ikan di depan rumah yang dihuni oleh beberapa ikan mas dan koi. 3 ekor koi bertahan hidup tak sampai sebulan. sedangkan para mas hidup lebih lama, tapi tak sedikit yang tewas di perut kucing tetangga. *sigh*

apa kabar dengan kura-kura?? karena ukurannya agak besar, dua ekor kura-kura itu dibiarkan ikut berenang di kolam ikan. tapi hanya 1-2 minggu mereka betah di sana, lalu kabur entah kemana. sempat ada yang ketemu sih di balik rerumputan dekat pagar, tapi kemudian hilang lagi.. :roll:

piaraan berikutnya yang bertahan kami pelihara adalah ikan hias. kali ini dipiara di akuarium. kecil-kecil, warna-warni, lucu-lucu, dan menggemaskan. ada koki, sapu-sapu, hiu kecil (jenis apa ya itu..pokoknya kek hiu tapi kecil lah), dan ikan hias lainnya. yang belum pernah kami punya adalah ikan badut. mungkin karena papa merasa cukup lah adik saya saja yang menjadi badut.. :P

bagaimana hidup para ikan mungil nan cantik ini? menurut survey yang saya lakukan, rata-rata mereka mampu bertahan hidup dengan damai di akuarium kami hanya selama 1-3 bulan saja. yang mampu mencetak rekor adalah si Odong, karena mampu bertahan hidup di dunia akuarium keluarga kami yang fana dan kejam itu selama setahun lebih. padahal sering banget Odong kelupaan dikasih makan. tapi, bukannya Odong yang mati, malah akuarium kami yang tamat riwayatnya, pecah disundul kepala si Odong. Odong pun mati diterkam kucing liar, karena akuarium daruratnya kami simpan di luar rumah. *saking lamanya si Odong hidup, keluarga saya sampai bosan melihatnya di dalam rumah.. Maaf ya, Dong..*

nah, ditinggal mati si Odong, adik saya sempat melihara 4 ekor ikan cupang. like sister like brother.. kami berdua sama aja. malas.. akhirnya, 2 minggu kemudian, cupangnya tinggal 2 ekor. dan naasnya, sepasang cupang yang sedang dimabuk asmara itu tidak kami ajak pindahan ke margahayu.. semoga pa abidin (yang punya kontrakan cisitu) berbaik hati merawat cupang-cupang manis itu.

oya, saya juga sempat punya Cemot, kura-kura pemberian si abang. namun, tak sampai 2 minggu ia pergi meninggalkan saya, terkujur kaku, membusuk di kamarku.. :cry:

sekarang, saya punya burung lagi. 1 ekor beo dan 4 ekor parkit. mereka baru sampai kemarin, bersama kedua orangtua saya yang baru pulang dari ponorogo. dengan isengnya mama sibuk mencari nama untuk piaraan barunya ini.

“nih, Cha.. Satria!”, mama menunjuk pada si beo. “tadinya pak supir bis ngasih nama ‘Joko’..tapi mama bilang aja, ‘jangan pak, Joko nama kakak saya..”
“…”
“tadinya mama mu kasih nama ‘Pono’ buat si beo dan ‘Rogo’ buat para parkit, tapi ternyata Pono artinya Hilang, gak jadi deh..takut ntar ilang beneran..”, mama masih asik ‘ngutak-ngutik’ si beo.
“…”
“Eh, apa ganti aja ya, jangan Satria..kepanjangan..”, mama berpikir.
“Blekok aja!.. enak kan tuh ngomongnya..”, bude ikutan nimbrung, “blekok.. blekok..”
Mama kurang setuju, “kesannya kasar amat yah ‘Blekok’ teh..”, mama mikir lagi..,”mm.. Bondan aja gimana?” *saat ada Bondan Prakoso di infotainment*
“Mak nyos, donk..”, saya berkomentar sambil mengingat wajah Bondan Winarno.
“Bondan.. Bondan..”, mama asik manggil-manggil si beo, tak menggubris komentar saya.
“…”
“Ahaa.. Romeo aja! Parkitnya Juliet.. kan sekarang bulan Juli..”, mama kembali girang, “Romeo..romeo..”.
“…”

Yak, dengan ini, si beo resmi bernama Romeo, dan para parkit dipanggil Juliet (terserah deh mana aja yang mau dipanggil Juliet, secara parkitnya ada 4 ekor..) :mrgreen:

Sebenarnya Ku tak rela
Meninggalkanmu
Dengan yang lain

Sesungguhnya
Sejak saat itu
Bayangan dirimu
Melekat dihati

Namun kini
Kau telah pergi
Mungkin cinta
Tak harus memiliki

Reff:
Kau takkan hilang
Tak pernah hilang
Meski tak berhenti
Ku mencoba lupakan dirimu

Kau takkan hilang
Tak pernah hilang
Kan selalu terpendam
Menjadi kenangan

-Dua-

karena baru sebatas mimpi.. saya baru bisa mengoleksi informasinya saja. uh..uh.. bisakah saya benar-benar keliling eropa?? ngegembel-gembel dah.. :|

nah, satu buku menarik lagi saya dapatkan informasinya dari ibu ini

Back Europe Pack – Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar!
by Marina Silvia K.

saya belum sempat membelinya sih (di Gramedia harganya Rp. 50.000!, uangnya mau dipakai makan sushi dulu, hehe..), baru sempat melihat-lihat sekilas. kayaknya seru dan lebih informatif dari bukunya Trinity.

aaa… ada yang mau kasih saya uang 1000 dolar??? :roll:

Ada buku bagus berkaitan dengan traveling. ‘The Naked Traveler’, karya Trinity. Bagus, karena tidak membosankan, dan seperti ‘Travelers’ Tale: Belok Kanan: Barcelona!’ karya empat penulis Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidajat, ‘The Naked Traveler’ juga berhasil membuat saya ngiler, pengen jalan-jalan bekpeking ke Eropa. Yang lalu disambut dengan tanggapan sinis pacar saya “Mau gitu kamu ngegembel kek gitu???”. Urgh, memangnya saya semanja itu?!

Beda dengan ‘Travelers’ Tale’, ‘The Naked Traveler’ bukan lah cerita fiksi, melainkan pengalaman asli sang penulis yang memang hobi traveling, baik keluar maupun dalam negeri. Ini merupakan blog yang dibukukan. Jadi, saat membacanya saya dapat langsung membayangkan gimana kejadiannya, seru banget.

Selain karena seru bisa membayangkan gimana rasanya perjalanan Trinity keliling dunia (beberapa negara di Eropa, Asia, Australia, New Zealand, dan Amerika), buku ini bagus karena sangat informatif, walaupun mungkin lebih subjektif. Dengan membaca buku ini, saya jadi tahu bahwa ada pulau di Sumatera Barat bernama Pulau Cubadak yang dimiliki oleh orang Italia dan dikunjungi oleh bule-bule, jarang banget ada wisatawan asal Indonesia. Saya juga jadi tahu bahwa DI PARIS GAK ADA NYAMUK, dan kenyataan bahwa Amerika mempunyai voltase listrik yang berbeda dengan di Indonesia, 110 volt, yang berarti kita butuh voltage converter kalo mau ‘nyolok-nyolok’. Buku ini juga banyak ngasih tips supaya bisa makan dan tidur secara murah meriah a la backpacker.

Pokoknya buku ini bisa jadi salah satu must-have-item kalau kalian pengen/suka/sering jalan-jalan. Bagi saya, buku ini jadi salah satu referensi saya buat rencana ‘nakal’ bulan madu nanti. :D

Tiga minggu lalu saya resmi pindah rumah. Kembali ke tanah kelahiran saya, Margahayu Raya. :mrgreen: Nah, tepat di saat kami pindahan, mama dapat kabar dari yayasan penyalur pembantu rumah tangga bahwa sudah ada 2 orang pembantu yang available. Pembantu kami yang sebelumnya minta keluar gara-gara hamil dan tidak diijinkan suaminya kerja, apalagi kalau kerjanya harus pulang-pergi dago-margahayu setiap hari..

Di sela-sela kesibukan pindahan, mama pun menjemput kedua orang pembantu yang available tadi di yayasan. Saya pun baru tau, kalau biaya ‘penebusan’ satu orang pembantu itu sebesar Rp. 400.000. itu baru buat nebusnya aja, lho.. itung-itung sebagai upah orang yayasan yang sudah mencarikan orang yang bersedia untuk jadi pembantu rumah tangga. Sedangkan gaji untuk satu orang pembantu adalah sekitar Rp. 500.000. nah, kalau dua orang, ya kalikan 2 saja tuh..

Kenapa 2? Karena rata-rata pembantu rumah tangga sekarang itu manja. Biasanya, kalau usianya masih di bawah 20 tahun, manjanya minta ampun, gak mau kerja sendirian, setidaknya musti merekrut 2 orang. *sigh* kalau udah usia dewasa sih, biasanya mau-mau aja kerja sendirian, tapi kendalanya adalah saat ia sudah berkeluarga, sering kali suaminya melarang kerja dan menyuruhnya pulang padahal baru beberapa minggu bekerja. Apalagi kalau sudah punya anak. Ah, sulit..

Dan karena di rumah saya memang membutuhkan pembantu – yang sebetulnya lebih berfungsi untuk menemani eyang putri kalau mama saya pergi, maka dua orang pembantu pun dengan terpaksa diterima.

Namanya Siti dan Asih. Nama yang sangat pembantu ya.. hehe. Sepanjang saya hidup, rasanya sudah 3 orang yang jadi pembantu saya bernama Siti. Siti yang sebelumnya malah jadi Siti yang paling berkesan buat keluarga saya, karena IQ-nya luar biasa jongkok, gak bisa berhitung (susah kalau disuruh beli sesuatu di warung), dan gak ngerti jam (ini juga gawat, gawat banget). Hebatnya, dengan bekerja pada kami selama kurang dari 6 bulan, si Siti yang ini berhasil menaikkan berat tubuhnya lebih dari 5 kilo, kebanyakan makannya dari pada kerja.

Berbeda dengan yang sebelumnya, Siti yang sekarang badannya kurus mungil. Dan yang mengejutkan, wajahnya cantik, tidak seperti wajah pembantu rumah tangga kebanyakan. Kulitnya putih bersih. Kayaknya dia jadi pembantu kami yang paling cantik sepanjang hidup saya. Sedangkan Asih, yang usianya lebih tua 1 tahun dari Siti, berwajah ‘biasa’. Cocok lah jadi pembantu, tapi gak jelek juga. Maap, maap, maen fisik nih saya.. :mrgreen: :mrgreen:

Saya pernah menguping mendengar perbincangan kedua pembantu baru ini dengan eyang. Kata Asih, “Siti punya pacar, Yang, di Jakarta. Pacarnya cakep. Ya kayak Sitinya lah, Siti kan cakep.” Weleh.. gaya amat.

Tiga minggu bekerja bersama kami, Siti lebih sering berbuat salah daripada Asih. Otomatis mama lebih sering menegur si mungil ini. Saya sempat ber-feeling, gak akan lama nih.. Dan benar saja, hari Sabtu kemarin, saat saya pergi bersama orangtua dan adik saya (tumben banget bisa pergi sekeluarga komplet!), si Siti KABUR.

Ngomong sama Asih sih cuman pergi ke pasar sebentar, tapi pakaiannya rapi, pake jeans, gak seperti biasanya kalau ke warung yang cuman pake celana pendek. Gak taunya, sang Siti gak kembali lagi. Saya sih sudah terbiasa, dulu-dulu juga sering ada pembantu yang ijin pulang kampung pas lebaran, ngomongnya akan balik lagi dalam 2 minggu, tapi ternyata gak balik-balik lagi. Tapi, belom pernah ada yang senekat ini kabur. Untungnya gak pake nyuri segala. :roll:

Asih pun lama-lama bercerita, bahwasanya Siti ini sudah sering kerja pindah-pindah, sebentar-sebentar. Dan karena dari dulu mereka selalu kerja bareng berdua, jadi Asih sudah hapal modusnya Siti. Di setiap tempat kerja, Siti akan nyari ‘cowok’. Dulu pernah dia pacaran sama supir, ketahuan majikan lalu dikeluarkan. Dan memang, setiap kerja berdua, yang pertama dikeluarkan selalu Siti, sang pembuat onar. Sedangkan Asih bekerja dengan baik, sehingga tetap dipertahankan majikan. Tapi, Siti yang sudah dipecat ini kemudian akan memaksa Asih untuk ikut keluar juga. Begitu seterusnya. *ck ck ck..*

Untungnya, Asih mau cerita. Dan mama sudah merayunya supaya mau kerja walaupun gak berdua. Ahh.. jadi kapok punya pembantu cantik! :( :( :(