Tiga minggu lalu saya resmi pindah rumah. Kembali ke tanah kelahiran saya, Margahayu Raya.
Nah, tepat di saat kami pindahan, mama dapat kabar dari yayasan penyalur pembantu rumah tangga bahwa sudah ada 2 orang pembantu yang available. Pembantu kami yang sebelumnya minta keluar gara-gara hamil dan tidak diijinkan suaminya kerja, apalagi kalau kerjanya harus pulang-pergi dago-margahayu setiap hari..
Di sela-sela kesibukan pindahan, mama pun menjemput kedua orang pembantu yang available tadi di yayasan. Saya pun baru tau, kalau biaya ‘penebusan’ satu orang pembantu itu sebesar Rp. 400.000. itu baru buat nebusnya aja, lho.. itung-itung sebagai upah orang yayasan yang sudah mencarikan orang yang bersedia untuk jadi pembantu rumah tangga. Sedangkan gaji untuk satu orang pembantu adalah sekitar Rp. 500.000. nah, kalau dua orang, ya kalikan 2 saja tuh..
Kenapa 2? Karena rata-rata pembantu rumah tangga sekarang itu manja. Biasanya, kalau usianya masih di bawah 20 tahun, manjanya minta ampun, gak mau kerja sendirian, setidaknya musti merekrut 2 orang. *sigh* kalau udah usia dewasa sih, biasanya mau-mau aja kerja sendirian, tapi kendalanya adalah saat ia sudah berkeluarga, sering kali suaminya melarang kerja dan menyuruhnya pulang padahal baru beberapa minggu bekerja. Apalagi kalau sudah punya anak. Ah, sulit..
Dan karena di rumah saya memang membutuhkan pembantu – yang sebetulnya lebih berfungsi untuk menemani eyang putri kalau mama saya pergi, maka dua orang pembantu pun dengan terpaksa diterima.
Namanya Siti dan Asih. Nama yang sangat pembantu ya.. hehe. Sepanjang saya hidup, rasanya sudah 3 orang yang jadi pembantu saya bernama Siti. Siti yang sebelumnya malah jadi Siti yang paling berkesan buat keluarga saya, karena IQ-nya luar biasa jongkok, gak bisa berhitung (susah kalau disuruh beli sesuatu di warung), dan gak ngerti jam (ini juga gawat, gawat banget). Hebatnya, dengan bekerja pada kami selama kurang dari 6 bulan, si Siti yang ini berhasil menaikkan berat tubuhnya lebih dari 5 kilo, kebanyakan makannya dari pada kerja.
Berbeda dengan yang sebelumnya, Siti yang sekarang badannya kurus mungil. Dan yang mengejutkan, wajahnya cantik, tidak seperti wajah pembantu rumah tangga kebanyakan. Kulitnya putih bersih. Kayaknya dia jadi pembantu kami yang paling cantik sepanjang hidup saya. Sedangkan Asih, yang usianya lebih tua 1 tahun dari Siti, berwajah ‘biasa’. Cocok lah jadi pembantu, tapi gak jelek juga. Maap, maap, maen fisik nih saya..
Saya pernah menguping mendengar perbincangan kedua pembantu baru ini dengan eyang. Kata Asih, “Siti punya pacar, Yang, di Jakarta. Pacarnya cakep. Ya kayak Sitinya lah, Siti kan cakep.” Weleh.. gaya amat.
Tiga minggu bekerja bersama kami, Siti lebih sering berbuat salah daripada Asih. Otomatis mama lebih sering menegur si mungil ini. Saya sempat ber-feeling, gak akan lama nih.. Dan benar saja, hari Sabtu kemarin, saat saya pergi bersama orangtua dan adik saya (tumben banget bisa pergi sekeluarga komplet!), si Siti KABUR.
Ngomong sama Asih sih cuman pergi ke pasar sebentar, tapi pakaiannya rapi, pake jeans, gak seperti biasanya kalau ke warung yang cuman pake celana pendek. Gak taunya, sang Siti gak kembali lagi. Saya sih sudah terbiasa, dulu-dulu juga sering ada pembantu yang ijin pulang kampung pas lebaran, ngomongnya akan balik lagi dalam 2 minggu, tapi ternyata gak balik-balik lagi. Tapi, belom pernah ada yang senekat ini kabur. Untungnya gak pake nyuri segala.
Asih pun lama-lama bercerita, bahwasanya Siti ini sudah sering kerja pindah-pindah, sebentar-sebentar. Dan karena dari dulu mereka selalu kerja bareng berdua, jadi Asih sudah hapal modusnya Siti. Di setiap tempat kerja, Siti akan nyari ‘cowok’. Dulu pernah dia pacaran sama supir, ketahuan majikan lalu dikeluarkan. Dan memang, setiap kerja berdua, yang pertama dikeluarkan selalu Siti, sang pembuat onar. Sedangkan Asih bekerja dengan baik, sehingga tetap dipertahankan majikan. Tapi, Siti yang sudah dipecat ini kemudian akan memaksa Asih untuk ikut keluar juga. Begitu seterusnya. *ck ck ck..*
Untungnya, Asih mau cerita. Dan mama sudah merayunya supaya mau kerja walaupun gak berdua. Ahh.. jadi kapok punya pembantu cantik!