Category Archives: family

Belum ada 24 jam Romeo tinggal bersama keluarga saya, Romeo sudah menunjukkan kebolehannya. Yaps, dia sudah bisa mengucapkan 1 kata! “Bakekok..”, itu kata pertamanya yang dapat terdengar agak jelas. Kata-kata lainnya yang belum terdengar sempurna diantaranya adalah “Punten”, “Waaw”, dan “Gue Beo” (ataukah dia berusaha untuk bilang “Romeo”??).

 

Susah banget ngajarin dia bilang “Assalamualaikum”.. yang keluar malah suara ayam “Bek bek betook” (maklum sih, selama 2 hari-2 malam Romeo bersebelahan dengan para ayam yang sama-sama dibeli di ponorogo di bis). Apalagi kalo saya nyuruh ngomong “Icha Cantik.. Icha Cantik..”, yang ada Romeo Cuma bersuara bak manusia mengeluarkan dahak “khroeeekk”. *deep sigh*

 

Nah, saking sayangnya saya pada Romeo, sore hari saya beri dia pisang kepok. Saya bermaksud mengikat si pisang di sangkar Romeo dengan karet gelang supaya posisinya pas dan tidak berubah. Eh, belum sempat si pisang terikat sempurna, Romeo sudah merebut si karet gelang. Astaga, ROMEO MENGIRA KARET GELANG ADALAH CACING! Romeo berusaha untuk menelan karet gelang tadi, tapi gagal terus, karena menyangkut di paruhnya sendiri. Saya, mama, dan para tante yang menyaksikan pergulatan antara Romeo melawan Karet Gelang yang ingin disantapnya itu panik.

 

“Gimana kalau beneran tertelan??”

“Bisa mati dia..”

“Cepat rebut karetnya!”

“Gimana caranya??”

“Icha, ambil batang lidi!”

 

Semua panik, dan bingung bagaimana caranya melepaskan karet gelang dari paruh si Romeo?? Saya datang membawa sebatang lidi. Mama mengambilnya lantas berusaha merebut karet gelang dari paruh Romeo. Saya?? Berdoa di balik punggung mama. Adik saya memasukkan tangan kanannya ke dalam sangkar si Romeo, menahan badan Romeo agar bisa diam dan tenang.

 

“Ati-ati kena matanya..”

“Iya..”

“Ya ampun, karetnya nyangkut di lidahnya..”

“Gimana ini?”

 

Saya sudah berpikir yang macam-macam saja. Terbayang Romeo akan mati karena menelan karet gelang pahit itu yang disangkanya sebagai cacing santapan.

 

Saya berdoa. Adik saya masih memegangi badan Romeo. Tante saya memegangi leher Romeo, berharap ia membuka paruhnya. Mama standby di posisinya, bersiap kalau Romeo membuka paruhnya lidi siap menarik karet gelang sialan itu. Romeo?? Lemas tapi tetap tak membuka paruhnya. “Koeek.. koekk..”

 

Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Romeo mau juga membuka sedikit paruhnya. Karet gelangnya pun berhasil ditarik. Horeeee…

 

“Alhamdulillah..”

“Koeek.. koekk..”

“Cup cup cup, Romeo..”

 

Saya kira Romeo akan pundung dan tak mau bersuara lagi. Saya menyesal.. telah membawa masuk karet gelang ke sangkar Romeoku sayang. :cry:

 

“…”

“…”

“bakekok.. bakekok..”, ROMEOKU NGOMONG LAGI! :D

eits.. jangan mikir yg bukan-bukan! *apa cuma saya aja ya yang suka mikir yang bukan-bukan? hihi..*

dulu (waktu SD) saya pernah juga punya burung, 1 ekor burung-5000-an yang saya gak tau jenisnya apa, beli di pasar kaget yang selalu buka setiap hari minggu di depan komplek. tapi..hanya bertahan hidup selama 1 hari! :mrgreen: *malang betul nasib si burung-5000-an..*

kisah cinta saya dan hewan piaraan selanjutnya adalah saat saya melihara ikan dan kura-kura. waktu itu masih ada kolam ikan di depan rumah yang dihuni oleh beberapa ikan mas dan koi. 3 ekor koi bertahan hidup tak sampai sebulan. sedangkan para mas hidup lebih lama, tapi tak sedikit yang tewas di perut kucing tetangga. *sigh*

apa kabar dengan kura-kura?? karena ukurannya agak besar, dua ekor kura-kura itu dibiarkan ikut berenang di kolam ikan. tapi hanya 1-2 minggu mereka betah di sana, lalu kabur entah kemana. sempat ada yang ketemu sih di balik rerumputan dekat pagar, tapi kemudian hilang lagi.. :roll:

piaraan berikutnya yang bertahan kami pelihara adalah ikan hias. kali ini dipiara di akuarium. kecil-kecil, warna-warni, lucu-lucu, dan menggemaskan. ada koki, sapu-sapu, hiu kecil (jenis apa ya itu..pokoknya kek hiu tapi kecil lah), dan ikan hias lainnya. yang belum pernah kami punya adalah ikan badut. mungkin karena papa merasa cukup lah adik saya saja yang menjadi badut.. :P

bagaimana hidup para ikan mungil nan cantik ini? menurut survey yang saya lakukan, rata-rata mereka mampu bertahan hidup dengan damai di akuarium kami hanya selama 1-3 bulan saja. yang mampu mencetak rekor adalah si Odong, karena mampu bertahan hidup di dunia akuarium keluarga kami yang fana dan kejam itu selama setahun lebih. padahal sering banget Odong kelupaan dikasih makan. tapi, bukannya Odong yang mati, malah akuarium kami yang tamat riwayatnya, pecah disundul kepala si Odong. Odong pun mati diterkam kucing liar, karena akuarium daruratnya kami simpan di luar rumah. *saking lamanya si Odong hidup, keluarga saya sampai bosan melihatnya di dalam rumah.. Maaf ya, Dong..*

nah, ditinggal mati si Odong, adik saya sempat melihara 4 ekor ikan cupang. like sister like brother.. kami berdua sama aja. malas.. akhirnya, 2 minggu kemudian, cupangnya tinggal 2 ekor. dan naasnya, sepasang cupang yang sedang dimabuk asmara itu tidak kami ajak pindahan ke margahayu.. semoga pa abidin (yang punya kontrakan cisitu) berbaik hati merawat cupang-cupang manis itu.

oya, saya juga sempat punya Cemot, kura-kura pemberian si abang. namun, tak sampai 2 minggu ia pergi meninggalkan saya, terkujur kaku, membusuk di kamarku.. :cry:

sekarang, saya punya burung lagi. 1 ekor beo dan 4 ekor parkit. mereka baru sampai kemarin, bersama kedua orangtua saya yang baru pulang dari ponorogo. dengan isengnya mama sibuk mencari nama untuk piaraan barunya ini.

“nih, Cha.. Satria!”, mama menunjuk pada si beo. “tadinya pak supir bis ngasih nama ‘Joko’..tapi mama bilang aja, ‘jangan pak, Joko nama kakak saya..”
“…”
“tadinya mama mu kasih nama ‘Pono’ buat si beo dan ‘Rogo’ buat para parkit, tapi ternyata Pono artinya Hilang, gak jadi deh..takut ntar ilang beneran..”, mama masih asik ‘ngutak-ngutik’ si beo.
“…”
“Eh, apa ganti aja ya, jangan Satria..kepanjangan..”, mama berpikir.
“Blekok aja!.. enak kan tuh ngomongnya..”, bude ikutan nimbrung, “blekok.. blekok..”
Mama kurang setuju, “kesannya kasar amat yah ‘Blekok’ teh..”, mama mikir lagi..,”mm.. Bondan aja gimana?” *saat ada Bondan Prakoso di infotainment*
“Mak nyos, donk..”, saya berkomentar sambil mengingat wajah Bondan Winarno.
“Bondan.. Bondan..”, mama asik manggil-manggil si beo, tak menggubris komentar saya.
“…”
“Ahaa.. Romeo aja! Parkitnya Juliet.. kan sekarang bulan Juli..”, mama kembali girang, “Romeo..romeo..”.
“…”

Yak, dengan ini, si beo resmi bernama Romeo, dan para parkit dipanggil Juliet (terserah deh mana aja yang mau dipanggil Juliet, secara parkitnya ada 4 ekor..) :mrgreen:

Tiga minggu lalu saya resmi pindah rumah. Kembali ke tanah kelahiran saya, Margahayu Raya. :mrgreen: Nah, tepat di saat kami pindahan, mama dapat kabar dari yayasan penyalur pembantu rumah tangga bahwa sudah ada 2 orang pembantu yang available. Pembantu kami yang sebelumnya minta keluar gara-gara hamil dan tidak diijinkan suaminya kerja, apalagi kalau kerjanya harus pulang-pergi dago-margahayu setiap hari..

Di sela-sela kesibukan pindahan, mama pun menjemput kedua orang pembantu yang available tadi di yayasan. Saya pun baru tau, kalau biaya ‘penebusan’ satu orang pembantu itu sebesar Rp. 400.000. itu baru buat nebusnya aja, lho.. itung-itung sebagai upah orang yayasan yang sudah mencarikan orang yang bersedia untuk jadi pembantu rumah tangga. Sedangkan gaji untuk satu orang pembantu adalah sekitar Rp. 500.000. nah, kalau dua orang, ya kalikan 2 saja tuh..

Kenapa 2? Karena rata-rata pembantu rumah tangga sekarang itu manja. Biasanya, kalau usianya masih di bawah 20 tahun, manjanya minta ampun, gak mau kerja sendirian, setidaknya musti merekrut 2 orang. *sigh* kalau udah usia dewasa sih, biasanya mau-mau aja kerja sendirian, tapi kendalanya adalah saat ia sudah berkeluarga, sering kali suaminya melarang kerja dan menyuruhnya pulang padahal baru beberapa minggu bekerja. Apalagi kalau sudah punya anak. Ah, sulit..

Dan karena di rumah saya memang membutuhkan pembantu – yang sebetulnya lebih berfungsi untuk menemani eyang putri kalau mama saya pergi, maka dua orang pembantu pun dengan terpaksa diterima.

Namanya Siti dan Asih. Nama yang sangat pembantu ya.. hehe. Sepanjang saya hidup, rasanya sudah 3 orang yang jadi pembantu saya bernama Siti. Siti yang sebelumnya malah jadi Siti yang paling berkesan buat keluarga saya, karena IQ-nya luar biasa jongkok, gak bisa berhitung (susah kalau disuruh beli sesuatu di warung), dan gak ngerti jam (ini juga gawat, gawat banget). Hebatnya, dengan bekerja pada kami selama kurang dari 6 bulan, si Siti yang ini berhasil menaikkan berat tubuhnya lebih dari 5 kilo, kebanyakan makannya dari pada kerja.

Berbeda dengan yang sebelumnya, Siti yang sekarang badannya kurus mungil. Dan yang mengejutkan, wajahnya cantik, tidak seperti wajah pembantu rumah tangga kebanyakan. Kulitnya putih bersih. Kayaknya dia jadi pembantu kami yang paling cantik sepanjang hidup saya. Sedangkan Asih, yang usianya lebih tua 1 tahun dari Siti, berwajah ‘biasa’. Cocok lah jadi pembantu, tapi gak jelek juga. Maap, maap, maen fisik nih saya.. :mrgreen: :mrgreen:

Saya pernah menguping mendengar perbincangan kedua pembantu baru ini dengan eyang. Kata Asih, “Siti punya pacar, Yang, di Jakarta. Pacarnya cakep. Ya kayak Sitinya lah, Siti kan cakep.” Weleh.. gaya amat.

Tiga minggu bekerja bersama kami, Siti lebih sering berbuat salah daripada Asih. Otomatis mama lebih sering menegur si mungil ini. Saya sempat ber-feeling, gak akan lama nih.. Dan benar saja, hari Sabtu kemarin, saat saya pergi bersama orangtua dan adik saya (tumben banget bisa pergi sekeluarga komplet!), si Siti KABUR.

Ngomong sama Asih sih cuman pergi ke pasar sebentar, tapi pakaiannya rapi, pake jeans, gak seperti biasanya kalau ke warung yang cuman pake celana pendek. Gak taunya, sang Siti gak kembali lagi. Saya sih sudah terbiasa, dulu-dulu juga sering ada pembantu yang ijin pulang kampung pas lebaran, ngomongnya akan balik lagi dalam 2 minggu, tapi ternyata gak balik-balik lagi. Tapi, belom pernah ada yang senekat ini kabur. Untungnya gak pake nyuri segala. :roll:

Asih pun lama-lama bercerita, bahwasanya Siti ini sudah sering kerja pindah-pindah, sebentar-sebentar. Dan karena dari dulu mereka selalu kerja bareng berdua, jadi Asih sudah hapal modusnya Siti. Di setiap tempat kerja, Siti akan nyari ‘cowok’. Dulu pernah dia pacaran sama supir, ketahuan majikan lalu dikeluarkan. Dan memang, setiap kerja berdua, yang pertama dikeluarkan selalu Siti, sang pembuat onar. Sedangkan Asih bekerja dengan baik, sehingga tetap dipertahankan majikan. Tapi, Siti yang sudah dipecat ini kemudian akan memaksa Asih untuk ikut keluar juga. Begitu seterusnya. *ck ck ck..*

Untungnya, Asih mau cerita. Dan mama sudah merayunya supaya mau kerja walaupun gak berdua. Ahh.. jadi kapok punya pembantu cantik! :( :( :(

Kegiatan menyenangkan sekaligus melelahkan adalah BELANJA! :D Bagi saya, kegiatan belanja ini bisa menjauhkan saya dari stress. Kecuali stress mikirin pengen-beli-barang-itu-tapi-gak-punya-uang.

Kalau lagi gak punya duit, saya punya cara lain supaya bisa melakukan hobi belanja ini : merayu MAMA.. :lol:
Seperti hari ini..

Pagi-pagi Papa udah ngasih pengumuman bahwa hari ini kawasan Margahayu Raya tempat saya (kembali) bernaung ini akan mendapat giliran pemadaman listrik untuk yang kesekian kalinya, yang ternyata tidak jadi (sebagian wilayah aja, rumah saya gak jadi kena giliran, katanya karna dekat dengan Rumah Sakit, jadi diupayakan supaya tidak padam). Dampak dari gosip perlistrikan dari Papa itu, sejak jam 6 pagi saya sudah sibuk ketak-ketik gak puguh. Ceritanya meneruskan penulisan tugas akhir, tapi lagi-lagi tergoda untuk chatting. :mrgreen:

Jam 10, Mama sudah gelisah, mondar-mandir kek anak ayam nyari emaknya ayam *astaghfirullah, gue nyamain emak gue sama ayam…ampuni aku, Tuhan..*. :|

“Bosen.. jalan yuk, Cha!”
“Kemana aja?”. Kalau cuma urusan yang membosankan, tentu saya akan menolak ajakan ‘jalan’ tersebut.
“Ngurus STNK motor si ade.”
“Terus?”, saya belum menemukan hubungan positif antara ‘ngurus STNK’ dan ‘jalan’.
“Belanja bulanan.”
“Yuk!!”, saya langsung lari ke lantai 2 untuk mengambil handuk, mandi, dan bersiap pergi. Pikir saya, lumayan bisa ngerampok dikit, sekalian kabur dari kehidupan-tanpa-listrik yang selalu membuat saya bete sendiri.

Dan selanjutnya, saya menikmati kemacetan Bandung yang membuat kaki kiri saya sangat pegal, nahan kopling berkali-kali. Nganter Mama ke biro jasa pengurus STNK di jalan Veteran. Di Veteran, baru sadar bahwa kunci pintu bagian supir bermasalah, gak bisa ngunci, nyangkut di bagian dalemnya. Bingung.. :cry:

Walaupun via telepon Papa bilang “gak usah ke bengkel segala! Ntar pulang kantor Papa betulin”, Mama memutuskan untuk ke bengkel, dengan alasan “Papa kan baru ntar sore pulangnya, sedangkan Mama sekarang pengen belanja. Gimana mau belanja kalau mobilnya gak bisa dikunci??”. Ya, Papa memang orang yang sangat amat jarang ke bengkel. Segala masalah permobilan dan permotoran selalu ditangani sendiri. Kalau udah seminggu di-handle sendiri tapi belum betul juga, baru lah dia bawa ke bangkel. Tauk dah, irit apa pelit ya? :roll:

Oke, dari Veteran, saya bawa Jazz hitam itu ke Buah Batu, bengkel favorit Mama. Ditinggal untuk sholat dzuhur sebentar, masalah kunci pintu Jazz saya itu sudah selesai. Hebat.. Cepat.. :-D
Dari Buah Batu, kami menuju destinasi utama kami :-P , belanja. Dan selama 3 jam, saya menemani Mama menyusuri setiap lorong di Carrefour Kiaracondong. Di sini saya menemukan kemiripan saya dan Mama, kami sama-sama senang menyusuri setiap lorong di tempat belanja. Walaupun lorong-lorong itu berisi barang gak penting yang gak akan kita beli juga. Pacar saya sih selalu rewel saat saya paksa nemenin belanja, sering melarang saya untuk melakukan ritual menyusuri-setiap-lorong-jangan-sampai-ada-yang-terlewat ini. Tapi kalau lagi sama Mama, saya super puas. :mrgreen: Walaupun akhirnya kami berdua kelelahan. Kaki ini rasanya sudah seperti talas Arab! (di Arab ada talas gak ya?? Hehe..) Pokoknya lebih besar dari sekedar talas Bogor!

Senangnya! Saya tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun, tapi kegemaran saya pada BELANJA bisa tersalurkan.. :lol:

Ada yang mau ngajak saya BELANJA juga??? :-)

After I read Karin’s “I miss him”, I felt like my tears would come out from both of my eyes. My heart was beating so fast. I didn’t know why. There was some one passed on my mind. My Papa.

 

I realized that I was such a bad daughter. The dumbest child that always neglect my papa’s love. Never realize how much he loves me. Never appreciate whatever he does for me. I do appreciate him, but I never show that I care with him. :(

 

Every time he comes into my bed room in the Monday morning just to say “Papa berangkat dulu ya, Cha..”, I just reply “Ya..ya..” while keep sleeping. And when he comes home in the Friday noon, I never welcome him with a family hug. Didn’t’ I realize that he leaves his family for 5 days every week to earn some money for me, my brother, and my mom’s needs. Not for him self. He never goes shopping for him self. What he always does is giving his money to me, for my school fee, my make-ups, my clothes, my shoes, my bags..

 

Look at him, Icha! He never buys any clothes him self! What a fool child you are if you don’t thank him!

Thank him, Icha! Show him that you love him so much! Show him that you’ll always make him happy in his life.. Show him that you’ll never make him disappointed.. Show him, Icha..

You’ll never know when you will miss the way he laugh.

You’ll never know when you will miss how he sleep after he lay down in 2 seconds.

You’ll never know when you will miss the way you chat with him while he drives.

You’ll never know when you will miss the rambutans that he always gives to you.

You’ll never know when he won’t cover you up with your pinky blanket at the midnight anymore.

 

You’ll never know when you will loss him.

 

I love you, Papa. Always love you. As much as I love Mama.