
di awal tahun 2009 ini, banyak undangan pernikahan yang saya dan ayah-ibu saya terima. hmm..mulai dari kerabat dekat, sampai teman lama, rupanya banyak yang memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya tahun ini – bahasanya infotainment banget gak sih? hehe
.
keterkejutan saya yang pertama, dewi perssik mengaku mencintai aldi taher. *gak nyambung*.
saat saya mengetahui sahabat dekat saya ternyata sudah bertunangan akhir tahun lalu, dan berencana menikah tahun ini setelah menyelesaikan studi s1-nya. *terharu mode: ON*
lalu saat mendapat undangan pernikahan teman SMA saya, yang tidak saya kira akan menikah secepat ini. lalu kakak kelas saya mengatakan dirinya berencana menikah bulan Mei tahun ini, yang saya kira itu becanda mengikuti iklannya Agus Ringgo “May.. Maybe yes, maybe not”, namun ternyata dia tidak becanda. lalu tetangga depan rumah saya yang mana merupakan teman sepermainan saya sewaktu kecil mengabarkan akan menikah bulan Maret tahun ini. lalu, minggu lalu saya baru saja menghadiri pernikahan anaknya-teman-ayah-saya yang juga saya kenal karena umurnya tidak jauh dengan umur saya.
lalu.. (mulai merasa banyak sekali menggunakan kata “lalu”) dua orang teman di kantor tempat saya menjadi freelance sekarang, seringkali saya dapati sedang browsing tentang wedding decoration dan souvenir pernikahan. kabarnya mereka juga berencana untuk menikah tahun ini. dan saya jadi sering ikut larut dengan perbincangan mengenai adat, dekorasi, kebaya, dan that wedding souvenir thingy. and you know what? ngomongin tetek-bengek pernikahan itu seru!
saya jadi ikutan (sok-sokan) merancang wedding party impian. hmm.. sometimes i’ll post here deh, lucu juga, hehe..
wah, saya merasa akan ditinggal kawin teman-teman saya. huhuhu..
oiya, saya lupa. orang tua saya. tepatnya emak sih, ayah saya tipikal orang yang kurang menunjukkan rasa peduli akan hal-hal seperti ini, haha. awal tahun ini, ibu saya lebih giat lagi membicarakan tentang her-daughter-future-wedding. kalau tahun lalu yang dibahas hanya seputar akan di gedung mana saya menikah nanti, awal tahun ini ibu saya mulai membahas berapa undangan yang akan disebar dan siapa-siapa yang akan diundang. “temen kantor papa itu banyak lho, cha. belom lagi para pemborong dan instalatir, banyak yang papa kenal tuh. hmm.. keluarga kita aja..hmm, ditambah lagi yang di jawa, pasti pada pengen dateng tuh cha. nanti kita ongkosin aja deh ya, kasian. oiya, keluarga Makasar juga tuh, sekalian ngenalin Bandung sama mereka. yang di Lampung juga..aduh, mama gak enak kalo gak ngundang. keluarga Paliama sih undang yang ada di Jakarta aja lah ya. berarti kalo ditotal berapa ya, cha? coba..coba..coba diitung..”, dan ibu saya mulai asik sendiri dengan alat tulis dan kalkulatornya, ayah saya pura-pura gak denger (seperti biasa, saat membicarakan sesuatu yang menyangkut uang, ayah saya diam) dengan pura-pura nonton tivi, saya kabur ke kamar mandi.
saat di pesta resepsi pernikahan yang kami hadiri pun, ibu saya sering menghampiri telinga saya dengan kalimat-kalimat “nanti gak usah pake adat. gak usah juga lah itu tuker cincin segala, sunnah Rasul-nya gak ada..”, atau “nanti di acara mu, gak udah pake piring berat-berat gini ya. yang simple aja lah, kasian kalo tamunya harus ngantri panjang, bawa piring berat, gak dapet duduk pula”, atau “sambutan-sambutan kayak gini gak penting kan ya?”, atau “sound system-nya nanti harus dicek bener2, cha”, atau “kebayanya nanti kayak gitu, cha, lucu”..
cape, deeehh.. ibu saya membicarakannya seakan pernikahan saya akan digelar dalam waktu dekat saja. padahal, saya masih punya sisa waktu 2-3 tahun lagi (deadline dari ibu saya. sebelum ayah saya pensiun, katanya).
di samping itu, saya merenung, teman saya saja banyak yang sudah dan akan segera menikah. saya? 2 tahun lagi taruh lah.. siapkah? pernikahan bukan hanya sekedar merancang seperti apa kebaya saya nantinya bukan? tapi seperti apa hari-hari saya setelah hari itu. setelah hari saya memakai kebaya cantik itu. setelah ayah saya dan seorang pria mengucap ijab-kabul. hari-hari dimana saya akan terbangun tidak lagi untuk mempersiapkan hari-nya saya pribadi, tapi juga mempersiapkan hari-nya suami dan anak-anak saya. hari-hari dimana saya akan memastikan bahwa mereka hidup layak, normal dan sempurna..
siapkah saya? hmm.. masak nasi saja belum becus. 2009, it’s time to prepare, hehehe..
4 Comments
Hohohoho,bolu kamu kaget gak klo aku bilang aku akan segera menikah?huehehehe…*ngawur berat*
Hmmm,hmm,jd diantara kita siapa yg duluan yah bol?heuheu ;p
waduh..tu emak bawel amat yach..
hahahaha
haduh2, sutrisno jg ya cha ngadepin mak2 uda mulai negributin kawinan. bagus mak gw masi adem2 aja liat anaknya gak menyebutkan nama satu cowok pun..
mau bilang santai gak bisa santai jg ya..
gw pingin 3 taon lagi ni..
mari bdoa yuk.. semoga cepet ditunjukkan calonnya..
amin..
udah…at least gak usah tinggal sama ibu mertua…dan diizinin punya baby sitter dan pembantu…udah
*melengos abis curcol…